Periode 2021 hingga 2022 menjadi saksi bisu atas dinamika harga yang cukup bergejolak pada sektor material bangunan di Indonesia. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi kantong para pemilik rumah yang berencana membangun atau merenovasi, tetapi juga menjadi pertimbangan krusial bagi para pengembang dan kontraktor dalam merencanakan proyek mereka.
Tekanan Biaya Konstruksi yang Berlanjut
Memasuki tahun 2021, para pelaku industri konstruksi mulai merasakan adanya peningkatan harga pada material fundamental, seperti besi beton dan semen. Lonjakan ini tak lepas dari korelasi antara pemulihan ekonomi global yang mulai menggeliat pasca-pandemi dan gencarnya pembangunan proyek-proyek infrastruktur di dalam negeri. Permintaan yang meningkat secara simultan baik dari skala global maupun domestik turut menjadi katalisator utama.
Menjelang akhir tahun 2021, data menunjukkan bahwa harga semen kemasan 50 kilogram mengalami kenaikan rata-rata sekitar 2%. Bahkan, untuk beberapa merek, peningkatannya bisa mencapai belasan persen. Sementara itu, besi beton juga tidak luput dari tren kenaikan, tercatat mengalami apresiasi harga di kisaran 1-2%. Tekanan terhadap biaya konstruksi ini nyatanya belum mereda dan terus berlanjut mengiringi sepanjang tahun 2022. Situasi ini mengharuskan para profesional di bidang konstruksi untuk terus berinovasi dalam manajemen biaya dan perencanaan yang lebih matang, guna mengantisipasi ketidakpastian pasar material di masa mendatang demi kelancaran setiap tahapan pembangunan.
Disadur & ditulis ulang oleh redaksi RenovAsik dari pemberitaan CNBC Indonesia (2021-2022).
