Pasar properti Indonesia diproyeksikan tumbuh positif pada 2026, dengan estimasi pertumbuhan dapat mencapai 8 persen. Angka ini sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi yang dipatok Bank Indonesia sebesar 5,3 persen, mengingat pertumbuhan properti umumnya berkisar 1,5 hingga 1,7 kali pertumbuhan ekonomi. Prospek ini memberi sinyal pemulihan yang menggembirakan bagi sektor properti nasional.
Ketahanan Segmen Menengah
Pada kuartal pertama 2026, pasar properti nasional menunjukkan ketahanan dengan Indeks Harga Jual Rumah relatif stabil, hanya turun tipis 0,1 persen. Rumah tipe kecil dan menengah menjadi penopang, dengan tipe kecil tumbuh 0,3 persen dan tipe menengah naik 0,5 persen secara kuartalan. Segmen ini mencerminkan permintaan hunian yang tetap kuat dari masyarakat.
Sektor pergudangan modern dan perkantoran Grade A di kawasan pusat bisnis Jakarta juga mencatat pertumbuhan stabil. Tingkat hunian gudang modern di Jabodetabek bahkan bertahan tinggi di level 96 persen, didorong pertumbuhan e-commerce dan logistik. Sektor industri dan pergudangan diperkirakan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan properti pada 2026.
Meski prospeknya cerah, sebagian besar pemangku kepentingan menilai pertumbuhan investasi properti akan bersifat moderat. Pelemahan daya beli, harga tanah yang tinggi, dan inflasi diperkirakan menjadi tantangan utama. Karena itu, pelaku usaha perlu strategi yang cermat agar mampu memanfaatkan peluang pertumbuhan sekaligus mengantisipasi risiko yang membayangi pasar properti tahun ini. Dengan strategi yang cermat dalam membaca peluang dan mengantisipasi risiko, pelaku usaha properti dapat memanfaatkan momentum pertumbuhan 2026 ini secara optimal di tengah dinamika ekonomi yang masih penuh tantangan.
