Di tengah pesatnya urbanisasi yang kian membatasi interaksi langsung dengan alam, konsep desain biophilic mendapatkan momentumnya di Indonesia. Pendekatan ini tidak sekadar tren, melainkan sebuah jawaban atas kebutuhan hunian yang lebih sehat dan harmonis, terutama di kota-kota besar. Diperkirakan relevansinya akan semakin meningkat pada tahun 2025, desain biophilic merangkul prinsip mengembalikan koneksi manusia dengan lingkungan alami melalui elemen arsitektur dan interior.

Merangkul Alam Tropis dengan Sentuhan Biophilic

Penerapan desain biophilic sangat cocok untuk kondisi iklim tropis Indonesia. Elemen-elemen seperti taman internal (inner courtyard), dinding vertikal yang rindang, serta planter box di setiap lantai menjadi cara efektif untuk membawa kehijauan ke dalam ruang. Ketersediaan cahaya alami yang melimpah di daerah tropis dimanfaatkan secara optimal, diperkaya dengan penggunaan material natural seperti kayu dan elemen air yang menenangkan. Kombinasi ini tidak hanya memperindah estetika hunian, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap kesehatan penghuni. Studi menunjukkan bahwa paparan terhadap unsur-unsur alami ini dapat membantu menurunkan tingkat stres, menstabilkan tekanan darah, serta meningkatkan konsentrasi dan produktivitas. Integrasi dengan material berkelanjutan kian memperkuat daya tarik desain biophilic, menjadikannya pilihan cerdas bagi para pemilik rumah, pengembang, maupun kontraktor yang berorientasi pada kualitas hidup dan kelestarian lingkungan. Perencanaan matang dalam mengintegrasikan elemen-elemen ini sejak dini, baik dalam proyek baru maupun renovasi, menjadi kunci untuk mewujudkan hunian tropis yang benar-benar sehat dan nyaman.

Disadur & ditulis ulang oleh redaksi RenovAsik dari pemberitaan Liputan6 (2025).