Inilah 4 Karakter Bangunan Tradisional Suku Baduy Yang Begitu Menghormati Alam



Yes, dari judulnya saja, kalian mungkin sudah bisa menebak-nebak bahwa masyarakat Baduy, umumnya memiliki prinsip hidup menyatu dengan lingkungan. Hal itu tercermin dari perilaku mereka yang begitu menghormati alam.

Jika berkunjung kesana, Anda dapat melihat tata cara adat yang begitu ketat mengatur tatanan kehidupan suku ini. Hal ini dapat Sahabat lihat dari tata lingkungan pemukiman suku Baduy yang terdiri dari masing-masing kelompok yang berjumlah kurang lebih 60 kampung. Setiap kampungnya mencakup 40 rumah.

Di dalam jurnal Karakter Arsitektur Tradisional Suku Baduy Luar di Gajeboh Banten (2007), Djumiko, menuliskan bahwa pada setiap pemukiman terdapat rumah-rumah warga, rumah kepala adat Puun, lurabung-lembung dan palungan sebagai tempat menumbuk padi secara bersama-sama.

Rumah kepala adat Puun bertempat diarea selatan dengan menghadap halaman terbuka, lokasi ini adalah hunian yang dijaga keagungannya. Orang luar atau tamu yang datang berkunjung tidak diperkenankan untuk masuk kedalamnya.

Sedangkan lumbung dan palungan, atau tempat menumbuk padi masyarakat Baduy ditempatkan secara terpisah dari tempat tinggal mereka.

Sahabat Renovasik, seperti apa sih karakter bangunan tradisional Baduy yang begitu menghormati alam ini? Langsung saja, berikut adalah tatanan rumah suku yang bertempat di pedalaman Banten ini.

1. Masa Bangunan

Masa bangunan tradisional suku baduy disusun secara berderet memanjang mengikuti kontur tanah daerah tempat mereka tinggal.

Deret semua bangunan menghadap kearah timur hingga barat. Satu sama lain berbeda ketinggiannya. Setiap dua rumah saling berhadapan pada bagian terasnya.

Secara susunan hierarkis, rumah kepala kampung berada di ujung Barat sisi paling Selatan yang menghadap ke halaman terbuka.

Sedangkan lokasi lumbung dibagi menjadi dua kelompok, yang pertama di sebelah Timur, lainnya di bagian Utara atau seberang sungai, bersama dengan palungan atau tempat menumbuk padi.

2. Denah

Denah bangunan rumah umumnya berbentuk persegi panjang. Hunian sudah mencakup area teras, ruang tidur dan dapur.

Suku Baduy tidak memiliki perabotan seperti meja, kursi, tempat tidur dan lemari seperti rumah atau hunian pada umumnya.

Sebagai informasi tambahan, peralatan dapur yang mereka miliki pun sangat alamiah, contohnya alat memasak tradisional seperti tungku dari tanah liat.

3. Fasad

Umumnya, bangunan menghadap arah selatan atau utara. Bagian atapnya berbentuk pelana dengan penutup berbahan alami seperti daun kiray dan ijuk. Sementara, lantainya terbuat dari bambu yang dibelah dan diperkuat dengan rangka kayu.

Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu, itulah alasan kenapa banyak rumah warga Baduy yang tidak memiliki jendela. Umumnya, anyaman ini memiliki lubang dengan konfigurasi yang teratur sebagai akses masuknya udara dan sinar matahari ke dalam ruangan.

Meski demikian, pada saat ini sudah ada sebagian warga yang sudah melengkapi rumah hunian mereka dengan jendela.

4. Struktur Bangunan

Struktur rangka bangunan tradisional suku Baduy terdiri dari tiang dan balok yang terbuat dari bahan alami seperti kayu dan bambu.

Tiang kayu adalah struktur dindingnya. Kemudian, dindingnya dibentuk dari lembaran bilik bambu yang juga dijepit dengan bambu.

Penutup atap yang terbuat dari daun kiray dan ijuk rata-rata memiliki ukuran 60 x 180 cm. Terakhir dan tidak kalah menarik, sistem sambungan bangunan tradisional suku Baduy umumnya menggunakan paku dan tali temali.


© RenovAsik. 2020 All rights reserved.